MAKALAH EKONOMI PERTANIAN “Skala Usahatani dan Produktivitas Faktor Produksi Petani Gurem Padi”

MAKALAH EKONOMI PERTANIAN

“Skala Usahatani dan Produktivitas Faktor Produksi Petani Gurem Padi”

 

Disusun Oleh : Kelompok 2

Ijang Gumilang

230250101017

Ratni

230250101034

Irmawati

230250101033

 

 

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS TOMAKAKA

2024

 

 

 

i


 

 

KATA PENGANTAR

 

Segala puji bagi Allah SWT yang senantiasa memberi karunia, rahmat dan kasih sayang-Nya. Atas kehendak-Nya pula penulis dapat menyelesaikan Makalah Ekonomi Pertanian dengan Judul “Skala Usahatani dan Produktivitas Faktor Produksi Petani Gurem Padi” sebagai tugas mata kuliah Ekonomi Pertanian semester III. Sholawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang kita nantikan syafa’atnya di hari akhir kelak.

Pada penyusunan makalah ini, penulis didukung oleh bantuan bimbingan, dan pengarahan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis menyampaikan terimakasih .

Penulis sadar, dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh sebab itu, kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca sangat penulis harapkan untuk perbaikan makalah ini.

 

 

 

 

Mamuju, November  2024

 

                                                                                                  

                                                                                                  Penulis

 

 

                                                                                                   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ii


 

 

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL............................................................................. i

KATA PENGANTAR.......................................................................... ii

DAFTAR ISI........................................................................................ iii

I.     PENDAHULUAN............................................................................ 1

A.     Latar Belakang........................................................................... 1

B.     Perumusan Masalah................................................................... 2

C.     Tujuan Masalah......................................................................... 2

II.    PEMBAHASAN.............................................................................. 3

A.   Pengaruh Penyempitan Lahan terhadap Skala Usahatani Padi. 3

B.  Penguasaan Lahan Petani Gurem Padi....................................... 4

C.   Pola/Sistem Usahatani Gurem Padi........................................... 5

D.   Produktivitas Petani Gurem Padi............................................... 5

E.   Penyebab Rendahnya Produktivitas Petani Gurem Padi............ 7

F.   Permasalahan Permodalan Petani Gurem Padi........................... 8

G.   Pengaruh Program Bantuan Pemerintah terhadap Produktivitas

Usahatani Gurem Padi................................................................ 9

III.    SIMPULAN DAN SARAN.......................................................... 11

A.   Simpulan................................................................................... 11

B.   Saran......................................................................................... 12

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

iii


 

 

 

 

2

BAB I PENDAHULUAN

A.        Latar Belakang

Lahan pertanian dewasa ini menghadapi tantangan dan tekanan yang semakin kuat terutama oleh persaingan peruntukan bagi pengembangan industri dan pemukiman, yang semua itu mengancam eksistensi sektor pertanian dalam hal ketahanan pangan nasional. Masalah penguasaan lahan telah banyak dikaji, terutama di negara-negara berkembang, yang berkaitan dengan proses transformasi perekonomian suatu negara. Transformasi ekonomi mempengaruhi laju transaksi lahan, tetapi dampaknya terhadap struktur dan distribusi penguasaan lahan berikut implikasinya sangat beragam.

Di tengah berlangsungnya pembangunan ekonomi yang tidak lagi menempatkan sektor pertanian pangan sebagai fondasi ekonomi nasional, berbagai persoalan mendasar masih dihadapi penduduk pedesaan yang mayoritas bekerja di sektor pertanian. Produktivitas usahati yang rendah, sempitnya lahan garapan, terjadinya alih fungsi lahan, meningkatnya penganguran, dan lainnya menyebabkan kesejahteraan penduduk pedesaan tidak kurung membaik. Minimnya kemampuan penguasaan lahan ini juga menjadikan para petani sebagai petani gurem dan hampir semua petani di Indonesia ini adalah petani gurem.

Diantara kelompok petani, yang paling perlu mendapat perhatian dilihat dari tingkat kesejahteraan dan kaitannya dengan luasan lahan yang dikuasai adalah petani tanaman pangan, khususnya padi. Padi atau beras secara nasional merupakan komoditas strategis dengan jumlah rumah tangga petani padi paling dominan diantara komoditas pangan lain. Oleh karena itu makalah ini akan membahas persoalan mengenai skala usaha dan produktivitas faktor produksi petani gurem terkhusus petani padi di Indonesia.

 

 

 

 

 

1


 

 

 

 

 

 

B.        Rumusan Masalah

Pembahasan yang akan dikupas oleh penulis yaitu meliputi:

1.   Bagaimanakah pengaruh penyempitan lahan terhadap skala usahatani padi?

2.   Bagaimanakah penguasaan lahan petani gurem padi?

3.   Bagaimanakah pola/sistem usahatani gurem padi?

4.   Bagaimanakah produktivitas faktor produksi petani gurem padi?

5.   Apakah penyebab rendahnya produktivitas petani gurem padi?

6.   Bagaimanakah permasalahan permodalan petani gurem padi?

7.   Bagaimanakah     pengaruh     program     bantuan                             pemerintah  terhadap produktivitas usahatani gurem padi?

C.        Tujuan Pembahasan

Berdasarkan rumusan masalah, dapat diperoleh tujuan sebagai berikut :

1.   Mengetahui pengaruh penyempitan lahan terhadap skala usahatani padi.

2.   Mengetahui penguasaan lahan petani gurem padi.

3.   Mengetahui pola/sistem usahatani gurem padi.

4.   Mengetahui produktivitas petani gurem padi.

5.   Mengetahui penyebab rendahnya produktivitas petani gurem padi.

6.   Mengetahui permasalahan permodalan petani gurem padi.

7.   Mengetahui pengaruh program bantuan pemerintah terhadap produktivitas usahatani gurem padi.

.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2


 

 

 

 

BAB II PEMBAHASAN

 

 

A.        Pengaruh Penyempitan Lahan terhadap Skala Usahatani Padi

Terdapat dua faktor penyebab terjadinya penyempitan lahan pertanian berdasarkan daerah hasil penelitian. Pertama, adanya fragmentasi atau penyusutan kepemilikan lahan pertanian karena pola pewarisan. Akibatnya, sebagian dari lahan tersebut dijual oleh ahli waris karena dianggap tidak mencukupi untuk diusahakan secara optimal. Hasil penjualannya direncanakan untuk modal usaha di luar sektor pertanian. Akan tetapi hanya beberapa petani yang beruntung dari hasil penjualan lahan tersebut, sehingga akhirnya sebagian menjadi petani penggarap atau buruh tani di lahannya sendiri.

Kedua, alih fungsi lahan melalui transaksi penjualan kepada perorangan atau pengusaha dari luar desa yang notabene kurang mengerti atau tidak menghiraukan eksistensi lahan pertanian di lokasi setempat. Biasanya, sebelum dialihfungsikan ke penggunaan nonpertanian, lahan pertanian tersebut boleh diusahakan oleh petani penggarap sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Namun para petani penggarap diliputi rasa kekhawatiran mengingat alih fungsi penggunaan lahan yang dimaksud sewaktu-waktu bisa terjadi dan dapat mengakibatkan mereka kehilangan pekerjaan.

Dari permasalahan yang telah disebutkan diawal tadi seperti penyusutan kepemilikan lahan dan juga alihfungsi sehingga menyebabkan fenomena “guremisasi” cukup gencar terjadi di lokasi penelitian. Dengan kata lain, skala pemilikan lahan petani menjadi semakin sempit atau bahkan ada petani yang tidak memiliki lahan lagi (tuna lahan). Fenomena tersebut berlangsung seiring perjalanan waktu dan menimbulkan dampak sosial.

Di Indonesia, definisi petani kecil lebih sering mengacu pada luas lahan usahatani. Sayogyo (1977) dalam Susilowati dan Maulana (2012) mengelompokkan petani ke dalam tiga kategori yaitu petani skala kecil

 

 

3


 

 

 

 

 

 

dengan luas lahan usahatani < 0,5 ha, petani skala menengah dengan luas lahan usahatani 0,5 1 ha, dan petani skala besar dengan luas lahan usahatani

> 1 ha. Petani gurem merupakan petani yang hanya memiliki luasan lahan usahatani < 0,5 ha. Jadi fenomena guremisasi ini terkait dengan sempitnya lahan pertanian yang kurang dari 0,5 ha.

B.        Penguasaan Lahan Petani Gurem Padi

Terdapat beberapa fenomena terkait dengan penguasaan lahan pertanian di lokasi penelitian yaitu:

a.   Penentuan pola penguasaan lahan tergantung pada kesepakatan awal antara pemilik dengan penggarap. Biasanya penerapan pola penguasaan lahan tersebut dilakukan sejak transaksi jual beli.

b.   Tidak semua pemilik lahan menguasakan lahan kepada penggarap dengan pola yang sama. Umumnya pemilik lahan menguasakan lahannya untuk digarap secara temporer oleh petani penggarap, namun dalam batas waktu yang tidak ditentukan. Dengan kata lain, kapanpun lahan tersebut dapat digunakan oleh pemilik. Konsekuensinya, petani yang menggarap lahan tersebut harus menyerahkan sepenuhnya kepada pemilik (tanpa syarat). Biasanya setelah tidak digarap, lahan pertanian yang dimaksud dialihfungsikan ke lahan non-pertanian (pabrik atau gudang).

c.   Penyerahan penguasaan lahan dari pemilik kepada petani penggarap dapat menyebabkan pengelolaannya menjadi tidak optimal. Bahkan pada beberapa kasus terjadi pengalihan wewenang pengelolaan lahan ke petani penggarap berikutnya. Dalam hal ini petani penggarap pertama berperan jadi manajer atau hanya sebagai perantara saja. Keberadaan petani penggarap sifatnya musiman (ganti-ganti) sehingga relatif sulit diarahkan untuk kegiatan suatu program.

d.   Pengaruh pemilik cukup tinggi dalam pengelolaan lahan, bahkan lebih menentukan dibandingkan peran penggarap lahan. Misalnya, apabila penggarap lahan mau menerapkan anjuran teknologi baru, pemilik lahan memiliki kekhawatiran terhadap kegagalan (penurunan produksi) yang berimplikasi pada berkurangnya bagi hasil atau pendapatan yang

 

                                                                             4


 

 

 

 

 

 

diperoleh. Jika tidak mengikuti kehendak pemilik lahan, dampaknya dapat berupa pemutusan hubungan kerjasama. Oleh karena itu, peran pemilik lahan cukup menentukan dalam penerapan teknologi dan peningkatan produktivitas lahan.

C.      Pola/Sistem Usahatani Gurem Padi

Jenis usahatani utama di lokasi penelitian adalah padi yang ditanam dua kali setahun, yaitu: (1) musim hujan (MH) yang berlangsung dari bulan Januari hingga bulan April/Mei; dan (2) musim kemarau pertama (MK I) dari bulan Juni/Juli sampai dengan bulan Oktober. Pada musim kemarau kedua (MK II), lahan pertanian cenderung tidak ditanami (bera) dan sebagian ditanami tanaman sayuran (ketimun).

Sebagai contoh adalah pola tanam pada lahan sawah berdasarkan artikel penelitian di Desa Tegalullar adalah padi-padi-bera, sedangkan pola tanam di Desa Bojongsari yaitu padi-padi-ketimun. Jenis padi yang umum digunakan adalah varietas Ciherang. Beberapa orang petani pernah mengusahakan tanaman jagung tetapi kurang berhasil. Sumber pengairan lahan sawah berasal dari irigasi dan pompa air. Keberadaan pompa air sangat diperlukan, khususnya selama musim kemarau. Nilai sewa pompa air milik perorangan dan kelompok masing-masing sekitar 700 kilogram per hektar per musim tanam dan 670 kilogram per hektar per musim tanam.

D.      Produktivitas Petani Gurem Padi

Upah tanam padi untuk setiap tenaga kerja masing-masing Rp 50.000per orang per hari (tenaga kerja luar desa) dan Rp 40.000 per orang per hari (tenaga kerja setempat). Tenaga kerja dari luar dijemput dan diantar oleh pemilik (pengguna tenaga kerja). Sebagai catatan, tenaga kerja setempat diambil oleh petani kaya karena pekerjaannya lumintu (terus menerus) pada lahan yang cukup luas. Sedangkan petani yang memiliki lahan sempit kesulitan mencari tenaga kerja upahan lokal setempat sehingga masih terdapat tambahan biaya untuk mengurusi tenaga kerja dari luar tadi.

 

 

 

                                                                                   5


 

 

 

 

 

 

Analisis fungsi produktivitas usahatani padi menghasilkan efisiensi teknis tergolong rendah yang berarti masih tersedia peluang peningkatan produksi yang cukup besar, efisiensi teknis sangat respon terhadap luas lahan, benih, dan pupuk urea. Perilaku risiko produktivitas petani terhadap input produksi adalah menghindari risiko (rizk averse). Hal ini berarti apabila terjadi kenaikan harga input maka petani sebagai pengambil keputusan akan mengimbanginya dengan menurunkan keuntungan yang diharapkan atau mengurangi penggunaan input produksi.

Kebijakan yang perlu dipertimbangkan dalam rangka peningkatan produksi padi yaitu: peningkatan produktivitas melalui penerapan teknologi tepat guna, perluasan areal pertanaman padi dengan peningkatan indeks pertanaman (IP), menekan kehilangan hasil pada saat panen dan pasca panen, meningkatkan stabilitas hasil dengan penerapan pengelolaan tanaman terpadu, menekan senjang hasil antara produktivitas di tingkat petani dengan produktivitas hasil penelitian melalui penerapan teknologi spesifik local dan dukungan permodalan. Keberhasilan produksi perlu didukung dengan kebijakan subsidi yang tepat bagi petani karena kondisi petani tergolong petani gurem, berlahan sempit dan memiliki keterbatasan modal usahatani. Subsidi yang dimaksud adalah berupa subsidi harga atas gabah dan subsidi bunga modal berupa kredit ushatani dengan biaya rendah dan prosedur yang lebih mudah bagi petani.

Sementara itu, penggunaan pupuk boleh dikatakan cukup tinggi karena petani menganggap lahannya kurang subur. Menurut artikel, benih yang digunakan pada lokasi pertanian yang diteliti adalah varietas Ciherang dengan harga Rp. 80.000,- per 5kg. Berdasarkan uraian tersebut terlihat bahwa faktor produksi yang dipakai oleh petani berlahan sempit cukup memakan banyak biaya. Semakin besar biaya produksi apabila tidak diimbangi dengan hasil produksi yang tinggi maka hanya akan memperkecil nilai pendapatan. Hasil produksi juga akan sulit mencapai produktivitas tinggi mengingat faktor produksi lahan yang dimiliki hanyalah kecil. Dengan keterbatasan itu, petani gurem telah berusaha mengoptimumkan penggunan input agar tercapai hasil

 

 

                                                                                  6


 

 

 

 

 

 

produksi yang tinggi, akan tetapi optimasi tersebut belum sepenuhnya tercapai. Hal ini dikarenakan kurangnya pemahaman mendalam petani tentang efisiensi penggunaan input maka yang saat ini sering terjadi yaitu petani mendapatkan keuntungan sedikit dari usahataninya.

E.       Penyebab Rendahnya Produktivitas Petani Gurem Padi

Masalah faktor produksi yang menyebabkan rendahnya produktivitas di daerah penelitian yaitu pengairan, pemasaran hasil pertanian yang terbatas, dan kemampuan penguasaan teknologi yang rendah. Dumoga sebagai daerah penelitian awalnya hanya berkembang sebagai kawasan pedesaan dengan didominasi oleh aktivitas pertanian, maka fasilitas-fasilitas penunjang yang bercirikan kota seperti fasilitas terminal ataupun jaringan infrastruktur jalan sebagai akses ke sentra-sentra produksi sekitarnya tentu saja masih kurang, karena kondisi tersebut maka kondisi sarana dan prasarana penunjang perlu mendapat perhatian khusus, mengingat pentingnya pembangunan ekonomi berbasis pertanian di wilayah tersebut. Produksi rata-rata tahunan yang dihasilkan daerah Dumoga pada tahun 2013, menurun dibandingkan dengan hasil 2003, hal ini disebabkan sebagian besar petani memiliki lahan kurang dari 0,5 hektar.

Masalah utama yang menyebabkan daerah yang mempunyai lahan sempit mengalami kesulitan dalam berproduksi adalah ketersediaan air irigasi yang tidak memadai. Air irigasi terutama pada musim kemarau menjadi sangat berkurang., bahkan saluran-saluran irigasi teknis menjadi kering sehingga usaha tani menjadi terhenti. Kementerian Pertanian konsisten meningkatkan produksi pangan, upaya yang dilakukan berupa pemberian alat mesin pertanian yaitu pompa air sehingga diharapkan dapat meningkatkan produksi.

Pemasaran hasil pertanian yang terbatas disebabkan karena keterbatasan fasilitas sarana dan prasarana yang ada di daerah penelitian yaitu daerah Dumoga. Pemasaran produk hasil pertanian masih dilakukan melalui pasar - pasar tradisional. Ketersediaan pasar / terminal agribisnis belum memadai sehingga menjadi penyebab kurangnya promosi produk agribisnis

 

                                                                                     7


 

 

 

 

 

 

yang dihasilkan. Rendahnya penguasaan teknologi juga menjadi penyebab pemasaran hasil pertanian yang masih kurang.

Selain itu, sulitnya tenaga kerja dan harga pestisida yang mahal, mengakibatkan modal yang dikeluarkan petani lebih besar dibandingkan dengan pendapatannya. Dosis penggunaan pupuk dan pestisida di petani tidak sesuai dengan anjuran pemerintah sehingga kebutuhan input produksi di kalangan petani lebih banyak dibutuhkan. Maka dari itu, perlu adanya analisis efisiensi dalam usahatani padi sawah, sebagai salah satu upaya dalam untuk meningkatkan produktivitas padi dan pendapatan petani.

F.         Permasalahan Permodalan Petani Gurem Padi

Permasalahan petani gurem selain menyempitnya lahan karena dampak dari alih fungsi dan fragmentasi lahan, juga terdapat permasalahan krusial lainnya yang dihadapi petani di lokasi penelitian yaitu modal usahatani. Terjadi hubungan antara permodalan dan luas lahan yang dimiliki. Biasanya semakin luas lahan kecil maka pendapatan akan semakin kecil. Pendapatan ini digunakan para petani gurem untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk permodalan usahatani pada musim berkutnya.

Lemahnya kelembagaan dan sulitnya akses petani terhadap kelembagaan, menyebabkan adanya permasalahan dalam usaha tani. Secara umum petani mempermasalahkan tingginya harga sarana produksi berupa pupuk dan pestisida, apalagi jika sarana produksi tersebut mengalami kelangkaan atau tidak tersedia di pasaran. Biaya-biaya berupa pembajakan tanah dengan traktor dan sewa huller serta penggilingan juga mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Dikarenakan pertumbuhan biaya yang fluktuatif, maka seringkali permodalan yang telah disiapkan untuk masa tanam berikutnya menjadi tdak cukup untuk membiayai semuanya.

Sebagian besar petani (khususnya penggarap) memperoleh fasilitas modal dari pemilik lahan dan pedagang (tengkulak). Besarnya modal dari masing-masing sumber tersebut bervariasi, yaitu tergantung kesepakatan antar penyedia dan peminjam modal. Dengan kata lain, tidak ada ketentuan

 

                                                                                    8


 

 

 

 

 

 

formal yang mengatur kesepakatan tersebut, namun posisi petani berada di pihak yang lemah.

Alternatif lain, misalnya melalui lembaga keuangan formal, kurang/tidak terjangkau oleh petani. Pengajuan pinjaman oleh petani (kelompok tani) boleh dikatakan tidak mendapat respon dari lembaga perbankan. Penyebabnya karena posisi petani lemah dari sisi agunan yang menjadi persyaratan mutlak bagi bank. Bukti temuan sederhana (anecdotal evidence) menujukkan bahwa realisasi kredit sepeda motor lebih mudah dibandingkan realisasi kredit usahatani. Hal tersebut karena kredit sepeda motor dapat dicicil bulanan sementara kredit usahatani tidak dapat dicicil musiman (per musim tanam).

G.     Pengaruh Program Bantuan Pemerintah terhadap Produktivitas Petani Gurem Padi

Seperti yang telah diketahui bahwa pemerintah terlibat aktif dalam upaya peningkatan produktivitas padi petani skala kecil. Salah satu bantuan yang diberikan pemerintah dalam upaya peningkatan produktivitas pertanian padi yaitu pupuk. Bantuan pemerintah ini diwujudkan dalam pemberian subsidi pupuk agar dapat meringankan pengeluaran pupuk petani kecil. Pupuk subsidi ini ditujukan untuk petani skala kecil dengan luas lahan maksimal 2 hektar, tetapi kerap kali petani dengan luas lahan lebih dari 2 hektar juga ikut membeli sehingga distribusi pupuk untuk petani kecil terbengkalai. Salah satu program yang dicanangkan pemerintah untuk menangani permasalahan tersebut yaitu program billing system.

Program billing system merupakan inovasi program pemerintah untuk membantu petani dalam menyelesaikan masalah terkait pendistribusian pupuk tepat waktu dan sasaran. Namun, tidak semua petani kecil memiliki persepsi yang sama terkait adanya program bantuan ini. Persepsi petani terhadap program billing system terbagi menjadi 3, yaitu persepsi terhadap program billing system dilihat dari tujuan program, pelaksanaan program, dan manfaat program. Diketahui bahwa dilihat dari tujuan dan manfaat program, persepsi petani skala kecil terhadap program billing system yaitu baik,

 

                                                  9


 

 

 

 

 

 

mereka menilai bahwa adanya program ini bertujuan untuk kesejahteraan petani dan bermanfaat mengakrabkan hubungan antar petani kecil. Sedangkan persepsi petani dilihat dari pelaksanaan program adalah kurang baik karena program billing system masih mempunyai banyak kekurangan meskipun dengan adanya bantuan subsidi pupuk ini dapat meningkatkan produktivitas usahatani padi skala kecil tetapi pelaksanaanya masih harus banyak dibenahi lagi.

Selain program bantuan subsidi pupuk, pemerintah juga memberikan bantuan berupa alat dan mesin pertanian serta benih kepada petani skala kecil sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitasnya. Adanya bantuan faktor produksi yang diberikan pemerintah ini mempengaruhi tingkat produksi, produktivitas, dan juga pendapatan petani padi skala kecil. Terbukti bahwa setelah adanya bantuan faktor produksi dari pemerintah yang berupa alat dan mesin pertanian, pupuk, dan benih membuat jumlah produksi padi milik petani skala kecil meningkat.

Adanya bantuan faktor produksi berupa alsintan membuat pengolahan lahan pertanian padi menjadi lebih optimal. Bantuan benih dan pupuk juga berpengaruh karena dengan adanya bantuan benih berkualitas dan subsidi pupuk, membuat petani menjadi lebih bisa mengoptimalkan usahataninya karena tidak terbengkalai biaya dan penggunaan faktor produksi yang sesuai dengan kebutuhannya, sehingga jumlah produksi padi bisa menjadi lebih tinggi dan tentunya produktivitas padi meningkat. Adanya bantuan faktor produksi ini membuat pengeluaran petani menjadi lebih kecil dan pengaruhnya terhadap produksi dan produktivitas menjadi lebih tinggi sehingga pendapatan petani juga meningkat. Lain halnya dengan saat petani belum mendapat bantuan faktor produksi dari pemerintah, pendapatan petani skala kecil cenderung lebih rendah karena hasil produksinya tidak seberapa dan biaya yang dikeluarkan lebih banyak.

 

 

 

                                                                                 10


 

 

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN

A.        KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan :

1.   Penyusutan kepemilikan lahan dan juga alihfungsi pertanian menyebabkan fenomena “guremisasi” dimana menyebabkan banyaknya petani yang hanya memiliki lahan sempit atau berskala usahatani kurang dari 0,5 ha.

2.   Terdapat beberapa fenomena terkait dengan penguasaan lahan pertanian lahan sempit budidaya padi. Pada kenyataan di lahan, yang sangat menentukan penerapan teknologi dan peningkatan produktivitas lahan adalah pemilik lahan.

3.   Pola usahatani gurem padi dilakukan pada musim kemarau dan musim penghujan. Keberadaan faktor produksi berupa pompa air sangat diperlukan ketika musim kemarau guna mencapai produktivitasnya.

4.   Keberhasilan produksi untuk mencapai produktivitasnya tergantung pada kemampuan manajerial petani itu sendiri, petani dapat mengoptimalkannya untuk memperoleh keuntungan lebih, perlu juga didukung dengan kebijakan subsidi yang tepat bagi petani.

5.   Masalah faktor produksi yang menyebabkan rendahnya produktivitas di daerah penelitian yaitu pengairan, pemasaran hasil pertanian yang terbatas, dan kemampuan penguasaan teknologi yang rendah.

6.   Terjadi hubungan antara permodalan dan luas lahan yang dimiliki. Biasanya semakin luas lahan kecil maka pendapatan akan semakin kecil. Lemahnya kelembagaan dan sulitnya akses petani terhadap kelembagaan dan peminjaman modal menyebabkan adanya permasalahan dalam usaha tani.

7.   Bantuan pemerintah berupa faktor produksi seperti alat dan mesin pertanian, benih, dan pupuk mampu meningkatkan produktivitas usahatani dan pendapatan petani padi pada lahan sempit.

 

 

 

 

11


 

 

 

 

 

 

B.        SARAN

Saran yang dapat disampaikan penulis menurut hasil pembahasan dan diskusi adalah sebagai berikut :

1.     Petani gurem perlu mendapat perhatian serius oleh stakeholders dan peran serta semua kalangan dalam bidang pertanian termasuk pemerintah untuk memberikan bimbingan dan dorongan semangat agar tetap mempertahankan pekerjaan sebagai petani dan menumbuhkan minat bertani bagi generasi muda. Sektor pertanian akan tetap ditekuni oleh rumah tangga petani gurem ketika dirasa memberikan produktivitas usahatani yang tinggi.

2.     Intensitas kegiatan penyuluhan pertanian harus ditingkatkan. Karena penyuluhan merupakan suatu kegiatan pendampingan para petani agar lebih terampil dalam mengkombinasikan input produksi. Jika terdapat permasalahan di lapangan petani dengan mudah meminta bantuan atau saran dari penyuluh sebagai pihak yang dianggap lebih memahami permasalahan budidaya padi. Diharapkan dengan adanya dukungan dari pemerintah seperti program penyuluhan dan subsidi dapat mempermudah petani dalam mengusahakan usahataninya agar produktivitasnya optimal.

3.   Melakukan peningkatan efisiensi produksi dengan cara mengoptimumkan penggunaan input usahatani.

4.   Pemerintah harus lebih memperbaiki komponen pendukung dalam pelaksanaan program-program bantuan yang dicanangkan agar program tersebut lebih tepat sasaran dan mampu membantu meningkatkan produktivitas serta pendapatan petani gurem.

 

 

 

 

 

                                                                           12


 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Adi P, Sutoyo. 2017. Produktivitas dan pendapatan usahatani padi sawah dampak program bantuan alat mesin pertanian, benih dan pupuk di Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur. J Ilmu-ilmu Pertanian 24(1): 1-9.

Gina R, Nur S. 2018. Tingkat efisiensi teknis usahatani padi sawah di Desa Tambakjati, Kecamatan Patokbeusi, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat. J Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis 4(2):169- 183.

Maher S, Erika DA, Abdul M. 2019. Persepsi petani terhadap program billing system di Kecamatan Metro Barat Kota Metro. J Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis 5(1):114-123.

Marianne RM, Ferdinan S. 2016. Pengaruh luas lahan terhadap penerimaan, biaya produksi dan pendapatan usahatani padi sawah di Desa Toinasa Kecamatan Pamona Barat. J Envira 1(2).

Nainggiloan S, Fitri Y, Kurniasih S. 2019. Kajian efisiensi teknis dan preferensi resiko produksi petani dalam rangka peningkatan produktivitas usahatani padi sawah di Kabupaten Bungo Provinsi Jambi-Indonesia. J of Agribusiness and Local Wisdom 2(1): 13-24.

Rika IKA, A Mantiri, Debby CR, Sri M. 2019. Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi padi sawah di Kecamatan Dumoga. J Pembangunan dan Keuangan Daerah.

Yonas HS. 2018. Eksistensi dan transformasi petani gurem : kasus pertanian wilayah pinggiran Kota Bandung. J SEPA 14(2): 146-158.


  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALAH PENGARUH KELEMBABAN PADA PRODUKSI TANAMAN PERTANIAN

MAKALAH APLIKASI MICROSOFT WORD

LAPORAN EKONOMI PERTANIAN DAN PERIKANAN (MEMBANGUN SEBUAH USAHA PRODUK OLAHAN DARI HASIL PERTANIAN/PERIKANAN)